Pages

Kamis, 18 Agustus 2016

Banyuwangi, Eksotisme Keindahan Wisata Alas Purwo dengan Beragam Kebudayaan Jawa

taman nasional alas purwo
SEPANJANG histori, tanah Blambangan yg waktu ini dinamakan Banyuwangi tidak sempat dianggap wangi. Pemberontakan, keterasingan, & bahaya melekat di belakang namanya. Tetapi, waktu ini stigma tersebut dilawan.

Palangkan yakni satu buah desa yg berada satu league ke pedalaman, kepada segi kanan mulut Teluk Belambangan. Dirinya dibelah oleh sungai mungil yg alur masuknya berseberangan dengannya. Kepada 13 Pebruari 1805, Jenderal Tombe & pasukannya dikunjungi oleh Joudo-Negoro (Yudhonegoro), pertama menteri wilayah itu”.

Paragraf itu mengakses tulisan berkaitan Blambangan di era kependudukan Inggris. John Joseph Stockdale, penulis dari Inggris, membukukan tulisan itu dalam satu buah karya berjudul Eksotisme Jawa : Ragam Kehidupan & Kebudayaan Warga Jawa. Di dua bab terakhir, Stockdale posting bahwa pendaratan rombongan Jenderal Tombe ke Blambangan ialah perjalanan yg susah & berbahaya.

Di Banyuwangi saat itu ditemukan tidak sedikit penyakit lingkungan yg timbul akibat debu gunung berapi. Jurusan menuju kota itu mesti ditempuh dgn menyeberangi sungai beracun & padang rumput yg penuh binatang buas. Stockdale bahkan menyatakan kawasan itu juga sebagai kawasan buangan ruang para tersangka kriminil.

Tetapi, di segi lain, narasi perjalanan itu menuliskan keramahan & ketajiran budaya lokal masyarakat setempat. Rombongan tersebut disambut dgn komedi melayu, gamelan, & biola. Makanan yg disajikan melimpah, mulai sejak dari kopi, teh, sirih, makanan eropa, sampai makanan lokal.

Waktu berkunjung ke desa mungil, masyarakat lokal yg menyatakan diri yang merupakan orang gunung menyajikan bermacam makanan lezat, seperti jagung, ayam panggang, & sejenis gin (minuman beralkohol).

Tulisan Stockdale menyangkut Blambangan dikala itu menggambarkan betapa masyarakat lokal Banyuwangi amat terbuka pada pendatang. Stigma negara inferior bersama tokoh-tokoh antagonis yg ternama dalam epik Damarwulan yg telanjur ternama tidak tergambar.

Keterbukaan & keramahan itu sampai sekarang masihlah ditemukan. Juli dulu, seusai perayaan Barong Ider Bumi, masyarakat Desa Kemiren, salah satu kampung yg tetap ditempati penduduk Using yg original Banyuwangi, mengundang seluruh visitor buat duduk & menikmati makanan dgn bersama mereka. Biarpun cuma beralas tikar, ada kehangatan & keakraban di dalamnya.

Kehangatan pula ditemukan di pelosok-pelosok desa. Kala berkunjung ke Desa Kabat, Kecamatan Kabat, contohnya, masyarakat dapat menyongsong hangat kehadiran tamunya biarpun belum sempat kenal diawal mulanya.

Pengamat rutinitas Using, Ayu Sutarto, ketika masihlah hidup (Ayu Sutarto wafat kepada Maret dulu), sempat menyampaikan, penduduk Using memiliki kultur budaya yg terbuka, cair, & dinamis. Mereka mampu menerima siapa saja & apa saja. Mereka bahkan bisa meleburkan budaya mereka dgn budaya pendatang maka melahirkan budaya baru khas mereka.

Tengok saja instrumen musik tarian gandrung. Tarian original Banyuwangi ini mengadopsi biola dalam instrumennya sejak dua abad dulu. Peleburan serta nampak kepada makanan khas Banyuwangi, seperti rujak soto, yg ialah perpaduan rujak cingur & soto, atau pecel rawon yg memadukan sayur pecel & kuah rawon.

Kedinamisan itulah yg menciptakan Banyuwangi tidak serupa dari daerah lain di Jawa. Kultur Banyuwangi tetap berkembang mengikuti era, namun terus menjaga kelokalan mereka.

Titik balik

Keistimewaan-keistimewaan tersebut difungsikan oleh Pemerintah Kab Banyuwangi utk terhubung babak baru histori Banyuwangi. Alam liar yg dulu menakutkan para penjelajah sekarang ini digunakan jadi ekowisata.

Perkebunan yg jadi area pembuangan beberapa orang kejahatan sekarang justru jadi lokasi wisata idola turis Belanda. Rutinitas yg dulu cuma dipentaskan di perkampungan saat ini dipoles & dipindah ke panggung nasional, bahkan ke kancah internasional.

Pemkab Banyuwangi berikan sentuhan trendi kepada festival yg mereka adakan, mulai sejak dari pergelaran musik jazz, olahraga surfing, balap sepeda, sampai kite surfing. Dipadukan bersama ketajiran alam laut & gunung yg sudah dipunyai sejak lama pula promosi yg gencar, Banyuwangi serta bersinar sbg destinasi wisata dunia.
Infrastruktur & sumber daya manusia yg jadi kelemahan daerah itu mulai sejak dibenahi. Sejak 2010, Pemkab Banyuwangi merintis penerbangan dari Surabaya ke Banyuwangi. Upaya itu tidak senantiasa mulus, namun Banyuwangi sukses mempersingkat saat tempuh dari Surabaya ke Banyuwangi dari 7-8 jam jadi 45 menit.

Banyuwangi pula coba meningkatkan sumber daya manusianya. Salah satunya lewat penguasaan bahasa Inggris, Arab, & Mandarin. Ke-3 bahasa itu utama sebab turis dari negara-negara itulah yg bakal disasar Banyuwangi.

Para pemilik homestay pun diajari trik mengelola homestay cocok standar hotel. Kebersihan, makanan, & layanan diperbaiki. Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menyampaikan mau masih menjaga kelokalan Banyuwangi sebab itulah yg jadi nilai lebih daerah itu di bandingkan lainnya.

Dari kerja keras tersebut, Banyuwangi hasilnya dapat membalikkan nasib. Apabila dulu Blambangan cuma dianggap yang merupakan negara antah-berantah & minim peradaban, saat ini Banyuwangi jadi kota baru dunia yg informasinya bersama enteng didapatkan di internet.

Kab yg sempat jadi lokasi pembuangan para tersangka kejahatan ini ditetapkan dunia sbg kota welas asih mula-mula di Indonesia lantaran mengedepankan humanisme, kebinekaan, & keberlanjutan.

Jerih payah Banyuwangi mengubah nasib pula menciptakan Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan Pemkab Banyuwangi sbg jagoan Re-inventing Government in Tourism dalam United Nations World Tourism Organization Awards ke-12 di Madrid, Spanyol, awal 2016.

Walaupun begitu, tetap tidak sedikit tugas hunian yg menanti. Juga Sebagai daerah wisata unggulan Indonesia, Banyuwangi semestinya didukung infrastruktur yg lebih memadai. Sampai sekarang ini akses menuju Banyuwangi tetap terbatas dari Surabaya saja.

Pemkab tatkala ini mengusung ekowisata berbasis aktivitas ramah alam. Pemkab pilih balap sepeda di bandingkan balap motor sbg bidang dari program memeriahkan pariwisata. Pemkab serta mengusung tema green and clean dgn memanggungkan kostum dari barang seken.

Di Sayangkan, festival yg dibuat Pemkab berlaku sebaliknya. Sebahagian festival belum ramah lingkungan. Dalam festival Bangsring Underwater th ini, contohnya, ribuan orang datang ke Pantai Bangsring. Akibatnya, pantai yg dibuat penangkap ikan sbg pantai perlindungan terumbu karang itu jadi bising & bernoda oleh sampah.

Gagasan Pemkab memuluskan jalan yg menembus Taman Nasional Alas Purwo biar akses menuju Pantai Plengkung di dalam taman nasional itu lebih enteng pula tidak selaras dgn semangat ekowisata. Trayek mulus berisiko memicu perubahan keadaan hutan, pencurian, pula penjarahan hutan.

Sibuk menggenjot wisata pula jangan sampai menciptakan Banyuwangi lupa bakal potensi yg lebih agung, ialah pertanian & kelautan. Potensi itulah yg dulu menarik tidak sedikit negeri utk datang menantang bahaya demi menguasai Blambangan

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2014 Tridaddycoaching.com. All Rights Reserved.